Showing posts with label Investasi untuk masa depan. Show all posts
Showing posts with label Investasi untuk masa depan. Show all posts

Thursday, 14 May 2015

Portofolio investasi saya

(Berbagi cerita yang agak panjang).
Ketika mereka tau bahwa saya sedang belajar berinvestasi, ada beberapa orang teman (termasuk kakak dan kakak ipar saya sendiri) singkat cerita bertanya kepada saya tentang perusahaan apa saja yang saya beli sahamnnya. (untung pertanyaannya bukan saham perusahaan apa saja yang saya jual?, karena prinsip investasi saya adalah saham yang sudah saya beli tidak untuk dijual lagi, he..he..he...paling tidak untuk 5-10 tahun ke depan, nah saat ini saya masih di tahun ke 2). Jawaban saya ketika itu adalah : Sebagaimana yang kita ketahui bahwa utamanya investasi itu bukan terletak pada duit, keuntungan, saham dan proses beli atau jual. Namun utamanya adalah tentang hidup tanpa banyak gaya yaitu sederhana, sabar, rasional, suka membaca dan suka berbagi, kemudian terletak pada belajar dan mencari tahu secara komprehensif perusahaan yang akan kita beli sahamnya. Sedangkan jalan pintas untuk menyarankan/rekomendasi saham yang mau dibeli atau dijual adalah sangat tidak lazim dan sangat dihindari dalam prinsip berinvestasi saham, namun difocuskan kepada mempelajari 3 hal yaitu : sektor industri yang prospektif untuk jangka panjang itu apa?, perusahaan yang terbaik yang paling menjanjikan di sektor tsb apa? dan apa saja indikatornya?, dan hitunglah berapa harga saham wajarnya untuk dibeli, yang hanya dibeli ketika murah. Intinya adalah jangan "membeli kucing dalam karung" (membeli tanpa mempelajari apa yang akan dibeli). Sekalipun ada orang yang memberikan rekomendasi saham yang akan dibeli, sebaiknya jangan percaya sebelum benar-benar dipelajari dan mencari tau sendiri kondisi perusahaannya terutama kinerja keuangan dan managementnya. Apalagi saya yang baru pemula ini, wah jangan dipercaya dulu sebelum belajar sendiri. Namun kalaupun sahabat tetap mau tau perusahaan yang ada dalam portofolio saya ya nggak apa-apa juga sih, tidak ada yang dirahasiakan (karena kita sama-sama belajar), asalkan tidak langsung meyakininya bahwa itu sudah yang terbaik dalam berinvestasi: iya kalau benar?, kalau salah bagaimana? , mohon saya diberi feedback ya. (walau tidak dijamin sudah yang terbaik, karena saya juga masih pemula maka masih sangat mungkin salah, he..he..he..).
Dalam portofolio saya ada 7 perusahaan seperti di bawah ini dan harga saham terendahnya yang pernah saya beli per lembar sahamnya adalah sbb :
1. INDF (Indofood), di harga Rp 6.400,-
2. PGAS (Perusahaan Gas Negara), di harga Rp 3.900-an
3. INTP (Indocement /Tigaroda), di harga Rp 20.000-an
4. SMGR (Semen Gresik / Semen Indonesia), di harga Rp 12.900-an
5. UNTR (United Tractor), di harga Rp 16.900-an.
6. KLBF (Kalbe Farma), di harga Rp 1.640-an (yang ini menurut saya masih sangat mahal)
7. SMCB (Holcim), di harga Rp 1.470-an. (perusahaan ini menurut saya kinerja keuangannya nggak bagus).

Kalau dilihat pertumbuhan modal (capital gain-nya) dalam setahun terakhir (dengan harga saham dari ke tujuh perusahaan di atas saat ini), ya Alhamdulillah sudah bisa melebihi dari penerimaan gaji saya selama setahun ketika masih bekerja dulu, namun perlu diingat bahwa capital gain itu dalam kacamata saya tidak bisa diuangkan/tidak untuk dijual, jadi ya hanya diliihat saja dan hanya sekedar tulisan dalam account saya yang sewaktu-waktu bisa turun dan bisa saja kembali nol :-). Kalau dijual artinya adalah mengurangi kepemilikan saya pada perusahaan tsb, ini yang saya tidak mau, karena yang sudah saya beli adalah untuk anak-anak saya kelak mereka dewasa (kalaupun ada teknik re-balancing portofolio, harus dilakukan dengan sangat hati-hati). Dan lagi pula yang namanya pertumbuhan kapital ya akan terus berfluktuasi, hari ini tinggi maka besok bisa turun, karena harga saham itu kalau nggak naik ya turun, jadi jangan mengganggap keuntungan dan meletakkan harapan pada naik/turun harga saham, saya tidak pernah menganggap capital gain itu adalah uang saya atau hak saya karena selama tidak diuangkan bentuknya tetap saja hanya lembaran saham, yang menjadi hak saya cukup dividen-nya saja, itupun sebagiannya akan dibelikan kembali ke saham. Target saya untuk pertumbuhan kapital adalah hanya sekedar menutupi nilai inflasi yaitu sekitar 8 - 9% per tahun (supaya nilai uangnya tidak sampai turun). Saran saya jangan terpancing dengan naik atau turunnya harga saham, itu sangat menggoda dan menjerumuskan. Berinvestasi bukanlah mencari keuntungan dari selisih harga naik dan harga turun, itu sih menurut saya lebih tepatnya disebut berspekulasi.
Sedikit cerita tambahan, bahwa kakak dan kakak ipar saya sendiri pernah bertanya ingin belajar tentang investasi, nah ketika sampai pada penjelasan bahwa modal awal itu bisa tumbuh dan juga bisa turun, dia bilang.. ini dia, katanya dia nggak akan kuat, karena kalau sudah tumbuh sampai 20% saja dia tidak akan tahan untuk tidak meng-uangkannya, he..he..he... Saya nggak tahan menahan tawa. Ini yang saya bertolak belakang dengan kakak saya itu dan itulah juga makanya dia belum juga berani memulai berinvestasi di saham karena nggak akan tahan melihat kenaikan atau turunnya portofolionya..he..he..he.. Dan juga pola hidup sederhana..he..he..he...Bagi saya, investasi itu benar-benar adalah hidup tanpa banyak gaya, yang tercermin dalam 5 sifat-sifat-nya yaitu kembali lagi kepada, : 1. Hidup sederhana, 2. Sabar, 3. Rasional, 4. Suka membaca dan 5. Mudah berbagi. Kemudian saya katakan kepada kakak-kakak saya itu bahwa, aspek psikologi terhadap uang akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam berinvestasi yaitu hasrat dan keinginan cepat kaya (greedy) dan atau takut yang berlebihan terhadap uang (fearfull, takut kehilangan) adalah tandanya kita memiliki ikatan perasaan dan emosi yang terlalu kuat terhadap uang sehingga ketika portofolio kita naik atau turun, maka hati kita juga akan berdebar-debar naik atau turun, itu barangkali yang membuat kita jadi tidak tenang,, he..he..he.., mungkin saya salah. Wallahu a'lam. Maaf beribu-ribu maaf kalau saya lancang dan salah dalam berkata-kata, ini hanya sekedar sharing dan semoga bermanfaat bagi sahabat yang mau mengambil pelajaran.
Sebelum memulai berinvestasi, ada baiknya lihat kembali perencanaan keuangan keluarga kita, seperti memilih hidup sederhana dengan hanya memenuhi kebutuhan saja secara wajar dan mengurangi pengeluaran untuk memenuhi keinginan (keinginan ini yang biasanya mahal), membebaskan diri dari berhutang, suka membaca dan mudah berbagi, serta tidak sampai lebih besar pasak dari pada tiang (artinya pengeluaran harus lebih kecil di bawah pendapatan). Salam

Monday, 11 May 2015

Income investing

Menurut saya,
"....Ukuran kemampuan financial seorang investor dalam membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari adalah seberapa besar dividen (bagi hasil usaha) yang ia terima di tahun itu, BUKAN seberapa banyak modal (dan pertumbuhannya) yang ia miliki dan yang ia peroleh..."

....Kalau pendapatan dividen tahun ini saya bandingkan dengan gaji saya dalam setahun ketika masih bekerja dulu, Alhamdulillah "hanya"  40%-nya. Masih sangat jauh..he..he..he.., Artinya adalah gaya hidup* dan pengeluaran saya juga harus bisa turun menjadi kurang dari setengah biasanya. (jangan lihat pertumbuhan kapitalnya, lewat.. he..he..he.., lewat tok maksud saya :-), he..he..
Salam

Catatan:
- Supaya "income" ini mencukupi, maka saya harus pandai memilah-milah: mana yang benar-benar menjadi kebutuhan, dan mana yang sekedar keinginan dan gaya hidup.
- Kebutuhan esensial menurut saya adalah untuk memenuhi 5 hal yaitu: kesehatan, keselamatan, pendidikan, investasi dan ibadah (termasuk untuk berbagi dan sosial).
- Dan Alhamdulillah, saya masih punya cukup waktu untuk terus belajar dan membaca serta melakukan kegiatan yang disenangi. Amin.
- Insyaallah, kepemilikan perusahaan ini, eh.. saham ini, bisa dihibahkan/diwariskan kepada anak-anak saya kelak ketika mereka dewasa. Amin.
*tepatnya bukan gaya hidup tetapi hidup tanpa banyak gaya, he..he..:-)

Monday, 27 April 2015

Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggu

Jangan pernah meletakkan nasib pada naik turunnya harga saham, karena dari waktu ke waktu harga saham itu kalau nggak naik ya turun. Nggak mau khan kalau nasib kita juga naik turun.he..he..he.. Cuma kalau harga saham lagi turun dan sudah murah, nah itulah kesempatan terbaik untuk membeli saham perusahaan bagus yang sudah ditunggu-tunggu. Salam

Sebelum terlambat

Berinvestasilah ketika masih punya gaji (masih bekerja), karena kalau sudah "kepepet butuh duit" baru ingat berinvestasi menurut saya sudah terlambat. Salam

Tuesday, 14 April 2015

Inflasi lebih besar dari pada imbal hasil tabungan

Jangan Menabung...!
Karena imbal hasil dari tabungan biasanya jauh di bawah besaran inflasi. Berarti nilai tukar (terhadap barang / kemampuan beli) dari uang kita akan terus berkurang dari tahun ke tahun, walaupun nominalnya terlihat bertambah.

Carilah investasi yang memberikan imbal hasil sama atau lebih besar dari pada nilai inflasi. Namun berhati-hatilah dengan investasi yang menjanjikan imbal hasil yang terlalu besar, karena biasanya tidak rasional dan cendrung penipuan.
Salam

Gaya hidup itu pilihan

Mana yang lebih menenangkan?
1. Kemampuan Kijang, belinya Xenia.
2. Kemampuan Xenia, belinya Kijang.
.
.
.
.
.
.
.
.
gaya hidup itu pilihan.

Mempertahankan gaya hidup itu mahal

Satu gelas es teh harganya Rp 3.000,- tetapi kalau Ice Tea harganya bisa Rp 12.000,-
Apa yang membuatnya berbeda?
.
.
.
.
.
gaya hidup / lifestyle

Friday, 3 April 2015

Portfolio re-balancing

....Karena saya masih pemula dalam investasi saham (masih kurang dari 2 tahun) dan belum sampai 5 s/d 10 tahun. Saat ini ilmu saya baru hanya pandai membeli saham (itupun masih perlu terus belajar), namun saya tidak pandai menjualnya. (Buy and hold).
Memang sih, kalau saya nggak salah nangkap, Pak Yossy Andrew Girsang pernah menjelaskan bahwa suatu saat kalau harga saham yang kita miliki sudah sangat-sangat tinggi melebihi nilai wajarnya (emotionally very high), maka kita bisa melakukan yg namanya portfolio re-balancing, yaitu menjual sebagian kecil (sekitar 5 - 10) dari portfolio tsb (itupun dilakukan secara berahap ketika harga saham tsb terus meninggi) untuk dijadikan standby cash. Namun jangan sampai tergiur menjualnya lebih dari itu karena kepemilikan saham harus tetap dipertahankan. Hati-hati jangan sampai terjebak dgn sifat greedy.
Saya menganggap ilmu tsb adalah tingkat advanced dan saya belum sampai ke sana. Mungkin nanti setelah 5 - 10 tahun lagi. (mohon maaf Pak Yossy kalau saya salah nangkap).
Salam

Hidup itu tidak mahal

Ternyata biaya hidup itu nggak mahal kok ya. (Udara masih gratis, he..he..he..).
Porsi terbesar dalam pengeluaran saya adalah biaya pendidikan anak-anak (baik yang formal maupun yang informal), sisanya adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berbagi.

Wednesday, 25 March 2015

Sabar menunggu sampai turun serendah-rendahnya

How Low Can It Go.?
Menurut saya semakin turun semakin baik (margin amannya semakin baik pula), supaya kita bisa membelinya dengan harga yang lebih murah. Namun tetaplah siap bila harganya semakin turun dan semakin turun, untuk kemudian membelinya kembali di harga yang lebih murah lagi dan lebih murah lagi he..he..:-) Kalau nanti harganya sudah naik kembali, baru istirahat. Salam

Note:
Berikut ini adalah grafik 3 bulan terakhir pergerakan harga saham SMGR (Semen Gresik atau Semen Indonesia), INTP (Semen Tiga Roda atau  Indocement) dan PGAS (Perusahaan Gas Negara) serta Semen Holcim (SMCB). Bandingkan dengan nilai intrinsik bisnisnya? Apakah sudah murah?

Berlomba-lomba dalam kesabaran

Berlomba-lombalah dalam kesabaran.
....setelah sabar menunggu, harga saham PGAS yang terendah yang sempat saya beli adalah Rp 4.650,- per lembar. Apakah itu sudah cukup sabar?, barangkali banyak diantara sahabat yang lebih sabar lagi menunggu harganya turun lebih rendah dari pada itu. Saya masih terus belajar untuk lebih sabar lagi, dan karena saya sudah pernah membeli dengan harga Rp 4.650,- maka saya akan tunggu lagi sampai harga yang lebih rendah dari itu untuk bisa membelinya kembali, selama di atas itu --> setia menunggu. :-) (menunggu dividen maksudnya he..he..) ... Salam

Investasi untuk generasi yang akan datang

Menurut saya investasi itu adalah untuk masa depan dan untuk generasi setelah kita.
....Dalam hal berinvestasi saham, saya hanya membeli dan tidak "pandai" menjual. Sekalinya saya beli adalah untuk saya simpan selama-lamanya yaitu selama perusahaannya masih menjanjikan dan management-nya masih tetap bagus.... Salam

Tuesday, 17 March 2015

Membeli saham dan menyimpannya (Buy and Hold)

... Sharing Membeli Saham ...
Grafik ini adalah pergerakan harga per lembar saham Indofood (dgn kode :INDF) selama 6 bulan terakhir. Saya mulai membeli saham INDF pada saat harganya Rp 7000. Kebetulan setelah saya beli, harganya terus turun sehingga portfolio saya waktu itu menjadi minus/rugi (loss), namun setiap harganya turun saya kembali membelinya (dan ketika harganya turun lagi maka kembali lagi saya membelinya) hal itu terus saya lakukan secara bertahap sampai harga terendah yang pernah saya beli adalah Rp 6500 per lembar saham. Harga rata-rata INDF di portfolio saya saat ini adalah Rp 6700,-. Kemudian suatu saat harga saham INDF naik (saat ini berkisar di Rp 7400-an), sekitar 10% di atas harga rata-rata tsb. Saat ini saya lebih banyak diam untuk saham INDF ini. (Menunggu turun lagi untuk kemudian membelinya kembali). Alhamdulillah, sampai saat ini semua saham INDF yang pernah saya beli masih saya simpan dan tidak satupun yang dijual (selama perusahaannya bagus dan prospektif serta managementnya baik).
Note :
Sedikit catatan tentang INDF untuk menjadi perhatian adalah masalah hutangnya yang cukup besar yang bisa saja sangat rentan terhadap kurs USD.
Salam

Saham untuk masa depan anak-anak kita

Bagi saya, membeli saham* suatu perusahaan walau hanya satu lot (100 lembar) seharga ratusan ribu saja** adalah sama dengan membeli bisnis untuk anak-anak saya kelak ketika mereka dewasa. Itulah sebabnya saham yang sudah dibeli akan saya simpan selama mungkin (10 tahun atau lebih) selama perusahaan dan management-nya tetap bagus.
Note:
*memiliki saham adalah tanda kepemilikan dari suatu perusahaan walau dalam satuan yang paling kecil sekalipun yaitu 1 lot.

**Contoh harga saham satu lot adalah sbb :
INDF (Indofood) @ Rp 7400 --> Rp 740.000,- per lot
SMCB (Holcim) @ Rp 1600 per lembar saham --> Rp 160.000,- per lot
KLBF (Kimia Farma) Rp 1800 per lembar saham --> Rp 180.000,- per lot.

Thursday, 26 February 2015

Untuk masa depan anak-anak

Selain memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak-anak, menurut saya yang terpenting berikutnya adalah memberikan pendidikan yang terbaik dan investasi untuk masa depan mereka. Salam