Monday, 16 April 2018

Investor dan petani

Seorang investor saham sama dengan seorang petani yg memiliki sawah.

Yg menjadi pikiran utama dari si petani adalah tentang hasil panennya yg baik dan melimpah berkah. Bukan kenaikan harga lahan sawahnya. Karena kalau hasil panennya melimpah, harga sawahnya akan mengikuti.

Kalau ia sibuk memikirkan kenaikan harga sawahnya sampai mengesampingkan hasil panennya, barangkali ia adalah pedagang/makelar lahan sawah, bukan petani sejati. 

Jadi kalau seorang investor saham sibuk memikirkan kenaikan harga sahamnya maka mungkin ia seorang pedagang saham bukan investor.

Besar dan kecil

Sesuatu yg besar bisa bermula dari yg kecil.

Begitu juga dalam berinvestasi. Mulailah sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Maka suatu saat akan menjadi besar juga, insyaallah.

Menebak harga saham

Saya tidak bisa menebak harga saham.

Harga saham yg sudah tinggi bisa saja akan tetap naik sedangkan harga saham yg sudah rendah juga bisa saja akan tambah turun. Harga saham tidak bisa ditebak, bisa naik dan bisa turun kapan saja tergantung ribuan sampai jutaan orang yg berada dipasar saham, dan mereka memiliki pandangan serta kepentingan yg berbeda-beda.

Ketika banyak orang yg membeli maka harga saham akan naik, sedangkan ketika banyak orang yg menjualnya maka harga saham akan turun. Harga saham bisa saja dan malah sering tidak mencerminkan dan terlepas dari kinerja usahanya.

Jadi jangan mendasarkan "nasib" kepada naik atau turunnya harga saham. Tetapi berpegang dan fokus lah pada kinerja perusahaannya.

Kalau ketika kita membeli saham diharga yg sudah murah kemudian setelah itu harganya malah tambah turun maka bergembiralah bahwa itu adalah suatu keberuntungan untuk membelinya lagi diharga yg lebih baik... kalau ada orang yg ragu untuk membeli lagi saham suatu perusahaan yg turun dari harga yg ia beli sebelumnya, bisa jadi karena ia ragu dan tidak mendalami dan tidak yakin dengan perusahaan yg ia beli..

Seorang investor menggantungkan keberhasilannya kepada kinerja yg baik dari perusahaan dari tahun ke tahun, bukan kepada harga saham. Tentang harga saham, cukuplah sekedar melihatnya supaya ketika kita membelinya diharga murah....

Sebenarnya ketika kita membeli saham dan kemudian harga saham tsb turun dan terus turun, tidaklah mengapa dan juga bukan suatu kesedihan atau kerugian, tetapi justru adalah suatu keberuntungan yg tidak hanya untuk membelinya lagi dengan harga yg lebih murah tetapi juga keuntungan kita adalah dari pembagian laba perusahaan yg naik dari tahun ke tahun dimana suatu saat pembagian laba tsb bisa melampaui harga yg kita keluarkan dahulu ketika membeli sahamnya. Itulah rahasianya kenapa seorang investor tidak pernah risau dengan turunnya harga saham. Yg akan membuat seorang investor risau justru adalah ketika harga saham naik sehingga ia tidak bisa lagi membelinya dgn harga yg murah dan hal lain yg lebih membuat seorang investor risau adalah kalau laba perusahaannya turun dalam jangka panjang dan atau kinerja perusahaannya memburuk karena dari awal salah memilih perusahaan yg ia beli sahamnya.

Seorang investor tidak ada "kepentingan" dengan PREDIKSI naik atau turunnya harga saham, itu adalah kepentingan pedagang saham. Kepentingan investor adalah pada kinerja usahanya yg bisa terus bertumbuh dan menaikkan laba usaha dan ekuitas dari tahun ke tahun. Dan ini sangat bisa diprediksi, bukan seperti harga saham yg sangat spekulatif.

Itulah makanya kalau berdagang saham itu beresiko tinggi sedangkan kalau berinvestasi dan memiliki saham dalam jangka panjang adalah hampir tanpa resiko yaitu sesuai dgn kondisi perusahaannya, bukan kondisi pasar saham.

Note:
Memprediksi harga saham adalah penuh resiko dan ketidakpastian, sedangkan memprediksi kinerja usaha suatu perusahaan adalah mudah. Salah satunya dengan menggunakan historis 5 s/d 10 tahun kebelakang. Kemudian pastikan sektor bisnisnya adalah sektor yg prospektif dan perusahaannya adalah perusahaan yg terbaik dan produktif dari segi financial..

Itulah makanya, berdagang saham itu beresiko tinggi dan sangat spekulatif. Sedangkan berinvestasi dan memiliki saham dalam jangka panjang sangat aman dan resiko nya sangat rendah...

Hal yg sulit dalam berinvestasi

Hal yg sulit ketika berinvestasi itu bukanlah mempelajari kinerja perusahaan dan membeli sahamnya. Karena selagi ada kemauan insyaallah bisa. Tetapi yg sulit dan yg sering menjadi kendala sehingga seseorang tidak bisa berinvestasi atau gagal dalam berinvestasi adalah karena masih sulit dalam mengendalikan pengelolaan keuangan keluarga. Masih sulit mengurangi keinginan dan pengeluaran, masih sulit jauh dari hutang dan meminta, suka boros dan gaya, serta sulit berbagi dan terlalu memandang materi segalanya.

Nah, dengan berinvestasi akan mengajarkan kita bahwa uang itu hanya di tangan saja dan tidak masuk ke hati.
Kenapa bisa begitu? Kadang portfolio naik tinggi ya tidak merasa kaya dan kadang juga turun rendah juga tidak merasa kehilangan.
Rasa dan hati terhadap uang sudah tidak lagi lengket,  tetapi sudah  terpisah. Bahwa bukan disitu letak dunia. Sampai-sampai Warren Buffett berkata bahwa ia hanya pandai mengumpulkan uang tetapi tidak tau dan tidak pandai membelanjakannya (lagi), hidupnya tetap saja sedehana,  baju dan mobil yg dipakai sudah lama, rumah pun biasa.  Serta 99% kekayaannya malah didermakan  (untuk charity), ia hanya hidup dari 1% hartanya..
Kekayaan dan kebahagiaan yg sesungguh nya ada di hati bukan di harta.
Nah, berinvestasi akan mengajarkan dan membawa kita memisahkan hati dari materi dan uang. Karena uang itu tidak kita belanjakan tapi kita investasikan, ketika kita dapat uang, kita tidak menggunakannya untuk memenuhi keinginan kita karena kita investasikan.
Seakan-akan kita terus belajar dan berkata bahwa kita tidak membutuhkannya dalam memenuhi keinginan kita. Sementara itu keinginan kita pun terus kita kecil kan sampai sampai tidak lagi memerlukan banyak biaya. Maka uang yg kita miliki bisa kita investasikan dan berbagi kepada yg lemah yg kadang mereka justru menjaga diri dari meminta.

Jadi
Salah satu spirit yg muncul ketika berinvestasi adalah: Kekayaan yg sesungguh nya ada di hati bukan di harta...

Greedy and fearful

Orang yg serakah akan harta (greedy)  atau terlalu takut akan kehilangan uang (fearful)  biasanya sulit berhasil dalam berinvestasi.  Karena uang dan harta terlalu lengket dihatinya dan ia ikut  terombang-ambing ketika harga saham naik turun. Ia tidak bisa tenang karena ingin cepat kaya atau terlalu takut jatuh miskin sehingga sering tidak rasional..

Bisnisnya perusahaannya dan harga sahamnya

Kesuksesan dalam berinvestasi pertama-tama terletak pada pilihan industri mana yang paling potensial tumbuh di masa depan, kemudian pada identifikasi perusahaan mana yang paling menjanjikan dalam industri tersebut. Dan untuk mendapatkan margin keuntungan yg aman, belilah sahamnya ketika murah.

Kunci kesuksesan berikutnya adalah karena sabar dan tahan untuk "tidak menjualnya".

Wednesday, 20 January 2016

Pentingnya belajar uang

Sharing sebuah pendapat.
Apa pentingnya kita belajar tentang uang?
Menurut saya adalah supaya kita bisa "mengenalinya" dan mengendalikannya. Karena kalau seseorang tidak belajar tentang uang, maka biasanya uanglah yang akan  mengendalikan dan mengatur hidupnya. Uang kemudian menjadi sumber utama motivasinya, dan bisa saja membuat (mengatur) seseorang mejadi mudah marah atau murah senyum, rendah hati atau malah sombong, berbuat baik atau malah berbuat jahat, dan memperlakukan orang lain dari sudut pandang uang, dll. Sampai-sampai persahabatan dan persaudaraan pun bisa putus atau nyambung karena uang. Hidupnya sangat rentan dan sensitif serta sangat dikendalikan dan terombang-ambing oleh uang.

Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan pesan tentang uang ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu dari mana dapatnya dan kemana digunakannya.
Dari mana dapatnya adalah (carilah uang secara maksimal) namun harus dengan cara dan dari sumber-sumber yang halal, sedangkan kemana digunakannya adalah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Dan yang besar itu biasanya keinginan, bukan kebutuhan. (pada hakekatnya keinginan itu adalah hawa nafsu, dan salah satu tanda orang beriman adalah semestinya tidak mengikuti hawa nafsu).
Salam